Dinsdag, 02 April 2013

Harta Karun Bung Karno



"....Pertengahan bulan November 2011, Saya dengan sengaja pergi ke Cirebon, Jawa Barat. Tujuan saya adalah untuk bertemu dengan salah seorang “pemburu” harta karun Bung Karno, sebutlah namanya Iskandar. Seorang lelaki berusia 50an tahun dengan perawakan kurus, tinggi sekitar 155 cm dan berkulit cokelat. Meskipun berbadan kurus, namun dari wajahnya terpancar semangat yang menyala. Terlebih ketika saya memulai pembicaraan tentang harta karun peninggalan Bung Karno, maka tatapan mata dan bahasa tubuh Pak Iskandar menampakkan pengetahuan dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tutur bicara dan gaya obrolannya penuh gairah, dan cenderung sulit disela ketika ia bercerita.

Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Pak Iskandar langsung memberikan beberapa penegasan kepada saya. Misalnya terkait istilah “harta karun” atau “warisan” yang saya gunakan ia berusaha “meluruskannya”. Menurut Pak Iskandar, peninggalan Bung Karno itu bukanlah warisan, karena warisan itu berarti harta yang sudah ditujukan pada orang-orang tertentu (khusus) sehingga selain ahli waris tidak berhak mengambilnya. Menurutnya lebih tepat digunakan istilah “Aset”, sebab harta peninggalan Bung Karno itu sebenarnya milik seluruh rakyat Indonesia. Hanya saja, untuk mencairkannya dibutuhkan orang-orang tertentu yang dapat dipercaya dan memiliki kriteria tertentu sebagai “pemegang aset”. Mereka adalah para “orang tua” yang diyakini mendapatkan mandat langsung dari “Paduka”, istilah untuk menyebut Bung Karno...."

Penasaran dengan cerita selanjutnya ????? selengkapnya baca di bukunya yaa.....:D

***

Buku ini terdiri dari tiga bagian pokok. Bagian pertama berisi tentang kisah-kisah perburuan “harta karun” Bung Karno dengan berbagai kesaksian yang penulis dapatkan. Bagian kedua adalah tentang harta karun sejati dari Bung Karno, yaitu warisan karakter, gagasan dan semangat Putra sang Fajar itu sendiri. Tiga hal itu juga disebut sebagai “harta karun”. Sebab, selama ini ia hampir terkubur dalam-dalam dan nyaris hilang ditelan gelombang perubahan jaman. Semangat Bung Karno adalah semangat humanisme, cinta tanah air, dan anti penjajahan. Gagasan Bung Karno adalah gagasan Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, Marhaenisme, Anti Kapitalisme dan Persatuan Nasional. Karakter Bung Karno adalah mencintai seni dan budaya bangsa sendiri, berdikari, dan pantang didikte. Hampir sebagian besar isi dalam bab ini bersumber dari tulisan-tulisan Bung Karno di masa muda maupun tuanya. Penulis berupaya menyederhanakan dan menyarikan konsep pemikiran tersebut dalam bentuk kutipan-kutipan (quotes) dengan maksud agar lebih mudah diingat dan dipahami. Sedangkan bagian ketiga merupakan panduan berwisata ke kota Blitar, tempat dimana Bung Karno diistirahatkan untuk terakhir kalinya.